Ki Menggung

Change is the only evidience of life

Download

API DI BUKIT MENOREH :

Karya: SH. Mintardja

Cerita dibuka dengan peperangan sisa pasukan Arya Penangsang yang mencoba bertahan di wilayah subur Sangkal Putung. Butuh waktu panjang sebelum pembaca diajak pergi ke wilayah perbukitan Menoreh. Mintardja juga memiliki ketrampilan lain yang langka. Ia bisa membuat sejarah versi sendiri agar lebih manis. Pertempuran di Prambanan saat pemberontakan Raden Sutawijaya—pendiri dinasti Mataram Islam—terhadap kerajaan Pajang dalam Api di Bukit Menoreh menjadi lumer.

Yang paling lokal baunya adalah teknik beladiri. S.H. Mintardja tidak menyebut beladirinya sebagai pencak atau silat. Ia menyebut sebagai “olah kanuragan” atau “ilmu kanuragan”. Tenaga dalam ia juluki “tenaga cadangan”. Rentetan ilmu beladiri kuno ia sebutkan. Raden Sutawijaya, tokoh dalam Api di Bukit Menoreh misalnya, disebut memiliki ilmu kekebalan tubuh “Tameng Waja”.  Agung Sedayu memiliki ilmu semacam “Kakang Pembarep Adi Wuragil”, yang bisa membuat dirinya menjadi tiga sosok. Saat pasukan Pajang di bawah Untara bertemu kawanan pemberontak Tambak Wedi, misalnya, ia menggunakan taktik Cakra Wyuha. Pertempuran itu, di mata S.H. Mintardja, direkayasa Sutawijaya dan penguasa Pajang untuk membersihkan kelompok bawah tanah yang ingin membangkitkan kembali Majapahit.

Api di Bukit Menoreh dikarang selama 32 tahun (terbit 1 per bulan) sejak 1967. Ketika beliau tutup usia di tahun 1999, ‘Api’ sudah mencapai 4 episode, 396 jilid.

Silahkan Klik gambar berikut Untuk download Karya SH Mintardja :


Api Di Bukit Menoreh


tumengung

CAMPURSARI   KARYA   MANTHOUS  CSGK

Pencinta campursari tentu mengenal Manthous, beliau salah seorang pioner seni campursari yang luar biasa. Irama gamelan Jawa oleh Manthous dimodifikasi ditambah beberapa alat musik  seperti keyboard dan drum  sehingga menghasilkan irama yang lebih akrab digemari masyarakat masa kini khususnya generasi muda. Berikut ini saya upload lagu – lagu asli yang dibawakan  Manthous bersama Group Campurasarinya, CSGK (Campur Sari Gunung Kidul) Maju Lancar.

Silahkan Klik Gambar berikut Untuk menikmati Campursari Original Vokal Manthous:

nyidam-manthous

Berkah Dalem

pnutup


Yang paling lokal baunyaadalah teknik beladiri. S.H. Mintardja tidak menyebut beladirinya sebagai pencak atau silat. Ia menyebut sebagai “olah kanuragan” atau “ilmu kanuragan”. Tenaga dalam ia juluki “tenaga cadangan”. Rentetan ilmu beladiri kuno ia sebutkan. Raden Sutawijaya, tokoh dalam Api di Bukit Menoreh misalnya, disebut memiliki ilmu kekebalan tubuh “Tameng Waja”.

Agung Sedayu memiliki ilmu semacam “Kakang Pembarep Adi Wuragil”, yang bisa membuat dirinya menjadi tiga sosok. Dalam Nagasasra dan Sabukinten, Lokal Sabukinten, Pasingsingan memiliki ajian “Gelap Ngampar”, tawa yang menjadi senjata. Joko Tingkir disebut memiliki jurus “Lembu Sekilan”, ilmu kebal jenis lainnya. S.H. Mintardja juga melengkapi adegan peperangan dengan deskripsi taktik pertempuran klasik militer Jawa.

Saat pasukan Pajang di bawah Untara bertemu kawanan pemberontak Tambak Wedi, misalnya, ia menggunakan taktik Cakra Wyuha. Pasukan mengepung musuh seperti cakra. Ini mengingatkan ketrampilan Chin Yung, dalam Sia Tiaw Enghiong (Memanah Burung Rajawali) yang bercerita tentang formasi ajaib Pat Kwa. Soal plot, S.H. Mintardja sangat longgar. Dalam Nagasasra dan Sabukinten misalnya.

Ia bercerita bagaimana dedikasi tentara Demak, bernama Mahesa Jenar, mencari dua keris yang dicuri dari istana Demak. Butuh cerita panjang di kawasan Mentaok sebelum akhirnya pembaca diajak ke tema awal: pencarian keris. Begitu pula dengan Api di Bukit Menoreh. Cerita dibuka dengan peperangan sisa pasukan Arya Penangsang yang mencoba bertahan di wilayah subur Sangkal Putung.

Butuh waktu panjang sebelum pembaca diajak pergi ke wilayah perbukitan Menoreh. Mintardja juga memiliki ketrampilan lain yang langka. Ia bisa membuat sejarah versi sendiri agar lebih manis. Pertempuran di Prambanan saat pemberontakan Raden Sutawijaya—pendiri dinasti Mataram Islam—terhadap kerajaan Pajang dalam Api di Bukit Menoreh menjadi lumer.

No comments yet.

Leave a comment