Hand In Hand
Bagi banyak orang, istilah difable mungkin masih asing. Difable adalah singkatan dari “different abled people” atau “orang dengan kamampuan berbeda.” Di Indonesia orang-orang dengan kondisi demikian lebih dikenal sebagai “penyandang cacat.”
Istilah difable baru mulai diperkenalkan sekitar tahun 1999 oleh aktivis gerakan kecacatan di Indonesia untuk menggantikan kata cacat. Perubahan kata ini diharapkan dapat merubah citra negatif terhadap difabel mengandung stigma sosial sebagai kaum yang tidak mampu (disable). Istilah yang sekarang cukup familier yakni kaum berberkebutuhan khusus. Ada apa dengan mereka, mari mengenal mereka dengan sarana berikut:
Bukalah Hati – Success Is My Right
“Success Is My Right”, Itulah folosofi milik Andrie Wongso.
Lebih dari 20 tahun, Andrie Wongso berkiprah sebagai pengusaha, sekaligus menjadi seorang motivator handal. Kemauannya untuk berbagi semangat, pengalaman, dan wisdom dengan gaya bahasa yang sederhana namun powerfull kepada orang banyak, membuat publik dan media massa mengukuhkannya sebagai The Best Motivator atau Motivator No.1 Indonesia.
Tapi, siapa yang menduga jika anak kedua dari tiga bersaudara ini, terlahir dari sebuah keluarga miskin di kota Malang, tepatnya pada bulan Desember 1954. Pada usia 11 tahun (kelas 6 SD), Andrie terpaksa harus berhenti bersekolah karena sekolah mandarin tempatnya belajar ditutup. Itulah yang membuatnya punya gelar SDTT alias Sekolah Dasar Tidak Tamat. Sejak saat itu, Andrie melalui masa kecil hingga remajanya dengan membantu orangtua membuat dan menjual kue berkeliling ke toko-toko dan pasar.
Ada sebuah tanda tanya besar yang menggelayut di dadanya, dengan apa nasib ini dapat diubah? Maka, lewat perenungan panjang, Andrie yang kala itu berusia 22 tahun memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta. Andrie berangkat dengan satu tekad yakni siap menghadapi apapun di depan dengan berani dan penuh kejujuran. Di Jakarta, Andrie memulai kehidupan barunya dengan bekerja sebagai salesman produk sabun hingga menjadi pelayan toko.
Andrie gemar menuangkannya dalam bentuk kata-kata mutiara di buku hariannya. Saat salah seorang teman kos mencontek kata-kata yang dibuatnya, dari situlah muncul ide untuk membuat kartu ucapan yang penuh dengan kata-kata mutiara. Selain untuk memotivasi diri sendiri, kata-kata mutiara dalam kartu tersebut juga bertujuan untuk membantu memotivasi orang lain. Dibantu oleh sang kekasih, Haryanti Lenny (yang sekarang menjadi istri), dimulailah bisnis pembuatan kartu ucapan “HARVEST”. Bisnis inilah yang di kemudian hari, mengukuhkan Andrie sebagai raja kartu ucapan. Dalam sejarahnya, “HARVEST” pernah digandrungi kawula muda seantero nusantara bahkan hingga ke mancanegara .
Berikut AudiobooK Inspiratif karya Andriewongso, The Best Motivator atau Motivator No.1 Indonesia, Selamat mendengarkan :
10. Jiwa Besar Berkah Besar
Selengkapnya Kunjugi : www.andriewongso.com
Foot Print on the Sand
“Dimanakah Engkau, Tuhan?!” Kalimat tanya bernada menggugat ini sering kita lontarkan saat Tuhan terasa meninggalkan kita, apalagi pada saat itu kita justru sangat membutuhkan uluran tangan-Nya. Benarkah Tuhan meninggalkan kita pada saat yang demikian?
Puisi Jejak – Jejak Kaki (Foot print on the Sand) memberikan gambaran pengalaman pengarang yang yang luar biasa ini, ia adalah Margaret Fishback Power. Tuhan menjaawab dengan tepat dan mengharukan. Nimatilah pengalaman tersebut sebagai inspirasi perjalanan hidup ini, tidakah sekali waktu Anda pun bisa mengalami hal yang sama?
Berikut goresan penanya:
Suatu malam aku bermimpi,
Berjalan-jalan di sepanjang pantai bersama Tuhanku.
Melintas di langit gelap babak-babak hidupku.
Pada setiap babak, aku melihat dua pasang jejak kaki yang sepasang milikku dan yang lain milik Tuhanku.
Ketika babak terakhir terkilas dihadapanku aku menengok jejak-jejak kaki di atas pasir, dan betapa terkejutnya diriku.
Kulihat bahwa acapkali disepanjang hidupku, hanya ada sepasang kaki.
Aku sadar bahwa ini terjadi justru saat hidupku berada pada saat yang paling menyedihkan.
Hal ini selalu menggangguku, dan aku pun bertanya kepada Tuhan tentang dilemaku ini.
“Tuhan, ketika aku mengambil keputusan untuk mengikuti-Mu, Engkau berjanji akan selalu berjalan dan bercakap-cakap denganku disepanjang jalan hidupku.
Namun ternyata dalam masa yang paling sulit dalam hidupku, hanya ada sepasang jejak kaki.
Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa ketika aku sangat membutuhkan-Mu, Engkau meninggalkan aku.”
Ia menjawab dengan lembut,” Anak-Ku, Aku sangat mengasihimu dan tidak akan pernah membiarkanmu, terutama sekali ketika pencobaan dan ujian datang.
Apabila engkau melihat hanya ada sepasang jejak kaki, itu karena engkau berada dalam gendongan-Ku”
Download: Foot Print on the Sand – Leona Lewis Mp3
Berjalan-jalan di sepanjang pantai bersama Tuhanku.
Melintas di langit gelap babak-babak hidupku.
Pada setiap babak, aku melihat dua pasang jejak kaki yang sepasang milikku dan yang lain milik Tuhanku.
Ketika babak terakhir terkilas dihadapanku aku menengok jejak-jejak kaki di atas pasir, dan betapa terkejutnya diriku.
Kulihat bahwa acapkali disepanjang hidupku, hanya ada sepasang kaki.
Aku sadar bahwa ini terjadi justru saat hidupku berada pada saat yang paling menyedihkan.
Hal ini selalu menggangguku, dan aku pun bertanya kepada Tuhan tentang dilemaku ini…
“Tuhan, ketika aku mengambil keputusan untuk mengikuti-Mu, Engkau berjanji akan selalu berjalan dan bercakap-cakap denganku disepanjang jalan hidupku.
Namun ternyata dalam masa yang paling sulit dalam hidupku, hanya ada sepasang jejak kaki.
Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa ketika aku sangat membutuhkan-Mu, Engkau meninggalkan aku.”
Ia menjawab dengan lembut,” Anak-Ku, Aku sangat mengasihimu dan tidak akan pernah membiarkanmu, terutama sekali ketika pencobaan dan ujian datang.
Apabila engkau melihat hanya ada sepasang jejak kaki, itu karena engkau berada dalam gendongan-Ku…”
Sering Tampar Anak Bikin IQ Jongkok
Menampar atau memukul kadang dilakukan orangtua untuk membuat anak patuh dan disiplin dalam sekejap. Tapi, tahukah Anda pola asuh yang keras bisa menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan otak anak?
Studi terkini menyebutkan, orangtua yang bereaksi terlalu keras untuk mengoreksi kesalahan anak, misalnya dengan cara menampar atau memukul, tidak hanya menyebabkan anak stres tapi juga membuat tingkat kecerdasan (IQ) anak lebih rendah.
Studi yang dilakukan peneliti terhadap ribuan anak di Amerika Serikat menunjukkan, anak yang kerap ditampar orangtuanya memiliki nilai IQ (intelligence quotients) yang lebih rendah dibanding anak yang tidak pernah ditampar.
“Setiap orangtua ingin punya anak yang pintar. Dengan menghindari kekerasan pada anak dan melakukan cara lain untuk mengoreksi kesalahan anak, hal itu bisa dicapai,” kata Murray Straus, sosiolog dari Universitas New Hampshire, AS.
Dalam risetnya, Strauss dan timnya melakukan studi nasional terhadap dua kelompok sampel anak, yakni 806 anak berusia 2-4 tahun, dan 704 anak berusia 5-9 tahun. Pada saat dimulainya studi anak-anak tersebut mengikuti tes IQ dan tes berikutnya di akhir studi, empat tahun kemudian.
Anak-anak dari dua kelompok itu menunjukkan tingkat kecerdasan yang meningkat setelah empat tahun. Tetapi dari kelompok anak berusia 2-4 tahun yang kerap ditampar orangtunya, menunjukkan skor IQ 5 poin lebih rendah dibanding anak yang tidak pernah ditampar. Untuk anak 5-9 tahun yang pernah ditampar, skor IQ-nya rata-rata lebih rendah 2,8 poin dibanding rekannya yang tidak ditampar.
“Pemukulan atau tindakan kekerasan yang dilakukan orangtua merupakan pengalaman yang traumatik bagi anak. Berbagai penelitian telah menunjukkan kejadian yang traumatik berakibat buruk bagi otak. Selain itu, trauma juga membuat anak memiliki respon stres pada kejadian sulit yang dihadapi. Hal ini tentu berdampak pada perkembangan kognitifnya,” papar Straus.
Tak sedikit orangtua yang menjadikan pukulan, tamparan, atau jeweran sebagai senjata untuk mendidik anak. Anak pun memilih untuk menurut daripada mendapat hukuman. “Akibatnya anak tidak bisa berpikir secara independen,” kata Elizabeth Gershoff pakar dibidang perkembangan anak dari Universitas Texas, Austin, AS.
Setiap anak memang perlu diajarkan disiplin. Selain agar patuh pada aturan, disiplin juga akan membuat anak belajar menghargai orang lain dan mengontrol dorongan dalam dirinya. Namun, orangtua hendaknya juga perlu membuat batasan-batasan yang dilandasi cinta agar anak merasa aman.
Alih-alih menghukum anak dengan pukulan, beri tekanan lebih pada sisi positif anak, misalnya dengan memberi hadiah atau pujian bila anak berlaku positif. Bila terpaksa memberi hukuman, sesuaikan dengan usia si kecil dan situasi yang berlaku.
Sumber : The Times
CintaNya Sungguh Dasyat
saya juga lama tidak menulis lagi datang malasnya he..he……. “
Hilangkan Kebiasaan Buruk
Inspirasi dari tulisan : Willibordus
Kebiasaan buruk yang telah terpupuk dari masa lalu umumnya sangat sulit dihilangkan. Beberapa bentuk kebiasaan buruk antara lain kebiasaan mengutil (mencuri), kebiasaan berbohong, kebiasaan memaki, kebiasaan pikiran tidak senonoh, kebiasaan minum bir, kebiasaan ngerumpi, kebiasaan untuk memaksakan kehendak kita kepada yang lain dan sebagainya. Kebiasaan buruk sebagai hasil akumulasi pikiran dan perbuatan yg telah “berakar” sampai ke dasar-dasarnya. Kebiasaan buruk merugikan -setidaknya tidak bermanfaat- bagi perkembangan batin diri sendiri dan bagi orang-orang di sekitar.
Bagi orang yang telah menyadari kebiasaan buruk masing-masing dan berkeinginan untuk meninggalkannya. Menurut Damma, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh : Menjaga Moral (Sila), melatih kesadaran/pikiran (Samadhi) dan meningkatkan pengertian benar/kebijaksanaan (Panna). Menjaga moral dengan cara menghindari pembunuhan, pencurian, tindakan asusila, berbohong dan minuman keras serta narkoba. Melatih kesadaran untuk menguatkan pikiran kita sehingga tidak gampang terpengaruh, hal ini akan didapat dengan melakukan meditasi. Meningkatkan kebijaksanaan dapat dilakukan dengan membaca buku-buku filsafat/ psikologi serta buku-buku keagamaan. Sebenarnya hal yang paling mendasar yang dilakukan adalah dengan menjaga moral.
Banyak orang meremeh moral, ada orang yang berpikir tidak apa-apa melakukan sedikit pelanggaran ini dan sedikit pelanggaran itu, kita hidup di tengah masyarakat manalah mungkin untuk menjaga moral kita seperti para orang suci….! Bagi yang benar-benar berkeinginan meninggalkan kebiasaan buruknya, mempunyai pandangan seperti itu sebenarnya telah mengakui kekalahannya sebelum perang. Hal yang mendasar saja tidak bisa dilakukan, bagaimana bisa melakukan hal-hal lainnya yang sesungguhya lebih berat dan tidak mudah bisa dicapai. Satu pelanggaran akan cenderung menimbulkan pelanggaran lainnya. Sebagai contoh: jika melakukan tindakan asusila, kemudian berbohong untuk menutupinya dan bahkan bisa menimbulkan pembunuhan guna untuk menutupi tindakan itu. Juga meminum minuman keras sampai mabuk akan timbul kata-kata kasar, selanjutnya timbul perkelahian atau tindakan asusila dan kebohongan lain.
Menyadari hal ini, tentu akan menyadarkan jika ingin meninggalkan kebiasaan – kebiasaan buruk, maka tidak ada lagi tawar menawar. Sekarang saatnya untuk meninggalkannya dan harus berani tegas pada diri sendiri dan berani mengatakan “tidak” untuk hal tersebut. Hanya dengan disiplin menjaga hal-hal yang mendasar inilah, kebiasaan buruk akan dapat kita hilangkan dan kita dapat maju ketahapan kesadaran yang lebih tinggi.***
Sahabat
“Sahabat adalah seorang
Yang memberi kekuatan di mana ada kelemahan
Yang memberi kedamaian di mana ada kebencian
Yang membawa kepastian, di mana ada kesulitan
Yang rela mendengarkan penuh perhatian
Yang memberi terang kepada hidup yang gelap.
Yang berbicara banyak tetapi bermakna dalam hidup
Yang memberi cinta sekalipun belum mendapat cinta
Yang membuat orang lain bahagia dan gembira”
Penulis : Lucy
______________________


