Ki Menggung

Change is the only evidience of life

Bambangan Cakil -Wayang Wong

Wayang Wong is a traditional drama performance that tells different episodes of the Mahabarata and Ramayana epic. The daily shows survived until today, though local people are not interested to them like decades ago.  The shows are supported by dedicated casts who always prepare and perform at their best. There will be one different title every show, taken from parts of Mahabarata and Ramayana epic. The score is provided by a gamelan live performance, played by a number of musicians playing traditional Javanese instruments. This would be one unforgettable night performance you can enjoy for its priceless cultural.

October 13, 2009 Posted by Ki Menggung | Budaya | , , | No Comments Yet

SH Mintardja Pemegang rekor Kisah “Terpanjang”

SH Mintardja adalah pengarang cerita silat Indonesia (Jawa) terbesar, yang mengarang banyak cerita silat, salahSH Mintardja satunya memegang rekor kisah ‘terpanjang’, yakni ‘Api Di Bukit Menoreh’. Kisah lainnya yang populer adalah ‘Naga Sasra dan Sabuk Inten’, yang ditulis sebelum ‘Api’.

Tapi produktivitasnya juga tidak diragukan. Selama sekitar tiga dekade ia menulis Api di Bukit Menoreh tanpa henti. Harian lokal Kedaulatan Rakyat langsung memuatnya. Jika S.H. Mintardja sakit, misalnya, koran ini akan memuat pengumuman penghentian lanjutan cerita.

Hebatnya, di saat dikejar tenggat Api di Bukit Menoreh sejak 1967 sampai menjelang meninggal, ia sempat menulis sejumlah judul lain yang juga cukup terkenal seperti Pelangi di Atas Singosari, Yang Terasing, sampai Matahari Esok Pagi. Kepopuleran karya S.H. Mintardja sangat terbantu dengan sandiwara tradisional kethoprak yang digemari warga Jawa Tengah, Yogyakarta, sampai Jawa Timur.

Mereka yang bukan tipe pembaca buku memahami cerita rekaan S.H. Mintardja dari kethoprak, baik yang pentas di alun-alun atau televisi lokal. Kethoprak ini tak hanya dipanggung- panggung, tapi juga lewat televisi. Nagasasra dan Sabukinten pernah menjadi seri kethoprak di televisi Yogyakarta meski tidak sampai tamat.

Tidak hanya itu, bagian awal Api di Bukit Menoreh pernah dijadikan film pada 1970-an. Selain produktivitas, kelebihan S.H. Mintardja adalah kedekatan emosional. Meski menulis dengan bahasa Indonesia, ia membaluri dengan nuansa Jawa. Ia menyebut waktu, misalnya, dengan istilah yang hampir dilupakan seperti sirep uwong atau sirep bocah. Soal plot, S.H. Mintardja sangat longgar. Dalam Nagasasra dan Sabukinten misalnya. Ia bercerita bagaimana dedikasi tentara Demak, bernama Mahesa Jenar, mencari dua keris yang dicuri dari istana Demak. Butuh cerita panjang di kawasan Mentaok sebelum akhirnya pembaca diajak ke tema awal: pencarian keris. Begitu pula dengan Mintardja, koran lain di wilayah itu tidak mau kalah. Suara Merdeka melirik nama penulis lain. (sumber: Koran Tempo Edisi 30 Oktober 2005)

menggung001

Api Di Bukit Menoreh,  Klik Judul Berikut:

1. Api Di Bukit Menoreh Jilid 001 – 025

2. Api Di Bukit Menoreh Jilid 026 – 050

3. Api Di Bukit Menoreh Jilid 050 – 075

4. Api Di Bukit Menoreh Jilid 075 – 100

Sabar, tunggu  lanjutannya…

September 26, 2009 Posted by Ki Menggung | Budaya | , , , , , , , , | 2 Comments

Manthous Membuat Trenyuh

MASIH ingat tokoh yang mempopulerkan musik Campursari?  Musisi asal Gunungkidul, Manthous, lama tidak pernah ada kabar beritanya menjalani hidup di Jakarta. Musisi yang lama menderita stroke itu dengan lagu favoritnya ”Nyidamsari”.
nyidam-manthousDidampingi istrinya, Asih Kusumawati, Manthous mendendangkan lagu yang ternyata kesukaan ibunya, Ny Wiryoatmaja. Seperti diketahui, Manthous yang sudah beberapa tahun menderita sakit, tidak dapat bicara dan menyanyi.  Menurut Asih Kusumawati istrinya, yang didampingi 4 putrinya Tatut Dian Ambarwati (Tatut), Ade Dian Krismastuti (Dian), Deni Dian Novanona (Deni) dan Anidya Janu Wardhani (Ninuk). Manthous memang dirawat di Jakarta, setiap Asih Kusumawati pentas
Campursari selalu diajak, kendati dalam keadaan sakit. Ternyata membuat memori yang selama ini tersimpan, sedikit demi sedikit muncul. ”Saya bersyukur, suami saya mau menyanyi” kata Asih, Ny Wiryoatmaja memberikan suport begitu selesai menyanyi. Manthous mendapat bonus ciuman ibunya.

Ketika ditemui KR, dengan terbata-bata Manthous seolah meminta maaf pada penggemarnya. Ia beberapa kali meneteskan air mata. Istrinya mengatakan, mudah-mudahan penampilan pertamanya di Gunungkidul mampu memberikan semangatnya lagi. Memang untuk menuju kearah kembali seperti dahulu, ia ragu. Paling tidak, membangkitkan agar semangatnya tumbuh lagi, dengan banyak berlatih, memberikan spirit sepanjang hidupnya. (Tulus Ds)-f) Sumber: Kedaulatan Rakyat, selengkapnya….

Pencinta campursari tentu mengenal Manthous,  pioner seni campursari yang luar biasa. Dalam sentuhannya Gamelan Jawa ditambah alat- alat musik masa kini /modern seperti keyboard dan drum menghasilkan irama Campursari yang  lebih akrab dan digemari segala kalangan masyarakat,  bahkan termasuk generasi muda masa.

Berikut beberapa lagu – lagu ORIGINAL  MANTHOUS bersama group CSGK (Campur Sari Gunung Kidul) Maju Lancar.

Klik Judul Lagu berikut menggung001 :

1. Nyidamsari bawo – Manthous MP3

2. Putra Nuswantoro – Manthous MP3

3. Bengawan Sore – Manthous MP3

4. Geblek Kulon Progo – Manthous MP3

5. Pak Rebo – Manthous MP3

6. Lego – Manthous MP3

7. Jeruk Garut – Manthous MP3

8. Lorobronto – Manthous MP3

9. Esemu – Manthous MP3

10. Getun – Manthous MP3

11. Potretmu – Manthous Mp3

12. Kembang Kecubung - Manthous Mp3

13. Anting – Anting - Manthous Mp3

14. Eling – Eling - Manthous Mp3

15. Panjerino - Manthous Mp3

16.  Ngimpi – - Manthous Mp3

17. Setyo Tuhu – Manthous MP3

18. Yen ing Tawang ana lintang MP3

19. Cintaku Jauh Di Lp MP3

20. Simpang Lima- Manthous Mp3

21 Aja Lamis – Manthous Mp3

September 12, 2009 Posted by Ki Menggung | Budaya | , , , , , , | 7 Comments

Bangunan Pribadi

Oleh Ki Menggung

Pribadi memiliki keunikan atau kekhasannya masing – masing. Pribadi tumbuh berkembang dipengaruhi oleh pertama, faktor intern yakni sebagai keunikan bawaan dalam bentuk bakat, kemampunannya, perasaan/ emosi, fisiknya yang berasal langsung oleh Sang Pencipta. Kedua, Faktor ekstern berasal dari lingkungannya yakni keluarga, lingkungan sekitar tempat tinggal, lingkungan pergaulan, latarbelakang sosial budaya, yang melingkupi kehidupannya, serta pendidikan yang ditanamkan baik secara formal maupun non formal. Berbagai faktor di atas mengkristal dalam diri pribadi tersebut yang memunculkan pola pikir dan pola tingkah laku.

Faktor lingkungan baik disengaja maupun tak disengaja berpengaruh kuat membentuk pribadi. lingkungannya. Ada salah satu pandangan dari ilmu psikologi yang menyatakan bahwa usia dibawah 5 tahun merupakan masa yang sangat berpengaruh dalam pembentukan pribadinya. Maka tak mengherankan jika latar belakang keluarga sangat dominan pengaruhnya untuk perkembangan pribadi. Faktor berikutnya yang juga kuat pengaruhnya adalah latar belakang sosial budaya di lingkungan. Berikut beberapa hal mengenai kajian dan artikel seputar budaya Jawa :

1. Nama-diri-etnik-jawa

2. javanese-encyclopedia

3. falsafah-orang-jawa

4. nilai-tradisi-lisan-dalam-budaya-jawa

5. Kepercayaan masyarakat jawa terhadap gunung

Success Bro,

Do the best, God takes the rest !!!

May 23, 2008 Posted by Ki Menggung | Budaya | , , , | 2 Comments