bengawan
http://tube.indo.net.id/play_audio.php?audio=2754
Bambangan Cakil -Wayang Wong
Wayang Wong is a traditional drama performance that tells different episodes of the Mahabarata and Ramayana epic. The daily shows survived until today, though local people are not interested to them like decades ago. The shows are supported by dedicated casts who always prepare and perform at their best. There will be one different title every show, taken from parts of Mahabarata and Ramayana epic. The score is provided by a gamelan live performance, played by a number of musicians playing traditional Javanese instruments. This would be one unforgettable night performance you can enjoy for its priceless cultural.
Hand In Hand
Bagi banyak orang, istilah difable mungkin masih asing. Difable adalah singkatan dari “different abled people” atau “orang dengan kamampuan berbeda.” Di Indonesia orang-orang dengan kondisi demikian lebih dikenal sebagai “penyandang cacat.”
Istilah difable baru mulai diperkenalkan sekitar tahun 1999 oleh aktivis gerakan kecacatan di Indonesia untuk menggantikan kata cacat. Perubahan kata ini diharapkan dapat merubah citra negatif terhadap difabel mengandung stigma sosial sebagai kaum yang tidak mampu (disable). Istilah yang sekarang cukup familier yakni kaum berberkebutuhan khusus. Ada apa dengan mereka, mari mengenal mereka dengan sarana berikut:
Bukalah Hati – Success Is My Right
“Success Is My Right”, Itulah folosofi milik Andrie Wongso.
Lebih dari 20 tahun, Andrie Wongso berkiprah sebagai pengusaha, sekaligus menjadi seorang motivator handal. Kemauannya untuk berbagi semangat, pengalaman, dan wisdom dengan gaya bahasa yang sederhana namun powerfull kepada orang banyak, membuat publik dan media massa mengukuhkannya sebagai The Best Motivator atau Motivator No.1 Indonesia.
Tapi, siapa yang menduga jika anak kedua dari tiga bersaudara ini, terlahir dari sebuah keluarga miskin di kota Malang, tepatnya pada bulan Desember 1954. Pada usia 11 tahun (kelas 6 SD), Andrie terpaksa harus berhenti bersekolah karena sekolah mandarin tempatnya belajar ditutup. Itulah yang membuatnya punya gelar SDTT alias Sekolah Dasar Tidak Tamat. Sejak saat itu, Andrie melalui masa kecil hingga remajanya dengan membantu orangtua membuat dan menjual kue berkeliling ke toko-toko dan pasar.
Ada sebuah tanda tanya besar yang menggelayut di dadanya, dengan apa nasib ini dapat diubah? Maka, lewat perenungan panjang, Andrie yang kala itu berusia 22 tahun memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta. Andrie berangkat dengan satu tekad yakni siap menghadapi apapun di depan dengan berani dan penuh kejujuran. Di Jakarta, Andrie memulai kehidupan barunya dengan bekerja sebagai salesman produk sabun hingga menjadi pelayan toko.
Andrie gemar menuangkannya dalam bentuk kata-kata mutiara di buku hariannya. Saat salah seorang teman kos mencontek kata-kata yang dibuatnya, dari situlah muncul ide untuk membuat kartu ucapan yang penuh dengan kata-kata mutiara. Selain untuk memotivasi diri sendiri, kata-kata mutiara dalam kartu tersebut juga bertujuan untuk membantu memotivasi orang lain. Dibantu oleh sang kekasih, Haryanti Lenny (yang sekarang menjadi istri), dimulailah bisnis pembuatan kartu ucapan “HARVEST”. Bisnis inilah yang di kemudian hari, mengukuhkan Andrie sebagai raja kartu ucapan. Dalam sejarahnya, “HARVEST” pernah digandrungi kawula muda seantero nusantara bahkan hingga ke mancanegara .
Berikut AudiobooK Inspiratif karya Andriewongso, The Best Motivator atau Motivator No.1 Indonesia, Selamat mendengarkan :
10. Jiwa Besar Berkah Besar
Selengkapnya Kunjugi : www.andriewongso.com
Foot Print on the Sand
“Dimanakah Engkau, Tuhan?!” Kalimat tanya bernada menggugat ini sering kita lontarkan saat Tuhan terasa meninggalkan kita, apalagi pada saat itu kita justru sangat membutuhkan uluran tangan-Nya. Benarkah Tuhan meninggalkan kita pada saat yang demikian?
Puisi Jejak – Jejak Kaki (Foot print on the Sand) memberikan gambaran pengalaman pengarang yang yang luar biasa ini, ia adalah Margaret Fishback Power. Tuhan menjaawab dengan tepat dan mengharukan. Nimatilah pengalaman tersebut sebagai inspirasi perjalanan hidup ini, tidakah sekali waktu Anda pun bisa mengalami hal yang sama?
Berikut goresan penanya:
Suatu malam aku bermimpi,
Berjalan-jalan di sepanjang pantai bersama Tuhanku.
Melintas di langit gelap babak-babak hidupku.
Pada setiap babak, aku melihat dua pasang jejak kaki yang sepasang milikku dan yang lain milik Tuhanku.
Ketika babak terakhir terkilas dihadapanku aku menengok jejak-jejak kaki di atas pasir, dan betapa terkejutnya diriku.
Kulihat bahwa acapkali disepanjang hidupku, hanya ada sepasang kaki.
Aku sadar bahwa ini terjadi justru saat hidupku berada pada saat yang paling menyedihkan.
Hal ini selalu menggangguku, dan aku pun bertanya kepada Tuhan tentang dilemaku ini.
“Tuhan, ketika aku mengambil keputusan untuk mengikuti-Mu, Engkau berjanji akan selalu berjalan dan bercakap-cakap denganku disepanjang jalan hidupku.
Namun ternyata dalam masa yang paling sulit dalam hidupku, hanya ada sepasang jejak kaki.
Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa ketika aku sangat membutuhkan-Mu, Engkau meninggalkan aku.”
Ia menjawab dengan lembut,” Anak-Ku, Aku sangat mengasihimu dan tidak akan pernah membiarkanmu, terutama sekali ketika pencobaan dan ujian datang.
Apabila engkau melihat hanya ada sepasang jejak kaki, itu karena engkau berada dalam gendongan-Ku”
Download: Foot Print on the Sand – Leona Lewis Mp3
Berjalan-jalan di sepanjang pantai bersama Tuhanku.
Melintas di langit gelap babak-babak hidupku.
Pada setiap babak, aku melihat dua pasang jejak kaki yang sepasang milikku dan yang lain milik Tuhanku.
Ketika babak terakhir terkilas dihadapanku aku menengok jejak-jejak kaki di atas pasir, dan betapa terkejutnya diriku.
Kulihat bahwa acapkali disepanjang hidupku, hanya ada sepasang kaki.
Aku sadar bahwa ini terjadi justru saat hidupku berada pada saat yang paling menyedihkan.
Hal ini selalu menggangguku, dan aku pun bertanya kepada Tuhan tentang dilemaku ini…
“Tuhan, ketika aku mengambil keputusan untuk mengikuti-Mu, Engkau berjanji akan selalu berjalan dan bercakap-cakap denganku disepanjang jalan hidupku.
Namun ternyata dalam masa yang paling sulit dalam hidupku, hanya ada sepasang jejak kaki.
Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa ketika aku sangat membutuhkan-Mu, Engkau meninggalkan aku.”
Ia menjawab dengan lembut,” Anak-Ku, Aku sangat mengasihimu dan tidak akan pernah membiarkanmu, terutama sekali ketika pencobaan dan ujian datang.
Apabila engkau melihat hanya ada sepasang jejak kaki, itu karena engkau berada dalam gendongan-Ku…”
Sering Tampar Anak Bikin IQ Jongkok
Menampar atau memukul kadang dilakukan orangtua untuk membuat anak patuh dan disiplin dalam sekejap. Tapi, tahukah Anda pola asuh yang keras bisa menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan otak anak?
Studi terkini menyebutkan, orangtua yang bereaksi terlalu keras untuk mengoreksi kesalahan anak, misalnya dengan cara menampar atau memukul, tidak hanya menyebabkan anak stres tapi juga membuat tingkat kecerdasan (IQ) anak lebih rendah.
Studi yang dilakukan peneliti terhadap ribuan anak di Amerika Serikat menunjukkan, anak yang kerap ditampar orangtuanya memiliki nilai IQ (intelligence quotients) yang lebih rendah dibanding anak yang tidak pernah ditampar.
“Setiap orangtua ingin punya anak yang pintar. Dengan menghindari kekerasan pada anak dan melakukan cara lain untuk mengoreksi kesalahan anak, hal itu bisa dicapai,” kata Murray Straus, sosiolog dari Universitas New Hampshire, AS.
Dalam risetnya, Strauss dan timnya melakukan studi nasional terhadap dua kelompok sampel anak, yakni 806 anak berusia 2-4 tahun, dan 704 anak berusia 5-9 tahun. Pada saat dimulainya studi anak-anak tersebut mengikuti tes IQ dan tes berikutnya di akhir studi, empat tahun kemudian.
Anak-anak dari dua kelompok itu menunjukkan tingkat kecerdasan yang meningkat setelah empat tahun. Tetapi dari kelompok anak berusia 2-4 tahun yang kerap ditampar orangtunya, menunjukkan skor IQ 5 poin lebih rendah dibanding anak yang tidak pernah ditampar. Untuk anak 5-9 tahun yang pernah ditampar, skor IQ-nya rata-rata lebih rendah 2,8 poin dibanding rekannya yang tidak ditampar.
“Pemukulan atau tindakan kekerasan yang dilakukan orangtua merupakan pengalaman yang traumatik bagi anak. Berbagai penelitian telah menunjukkan kejadian yang traumatik berakibat buruk bagi otak. Selain itu, trauma juga membuat anak memiliki respon stres pada kejadian sulit yang dihadapi. Hal ini tentu berdampak pada perkembangan kognitifnya,” papar Straus.
Tak sedikit orangtua yang menjadikan pukulan, tamparan, atau jeweran sebagai senjata untuk mendidik anak. Anak pun memilih untuk menurut daripada mendapat hukuman. “Akibatnya anak tidak bisa berpikir secara independen,” kata Elizabeth Gershoff pakar dibidang perkembangan anak dari Universitas Texas, Austin, AS.
Setiap anak memang perlu diajarkan disiplin. Selain agar patuh pada aturan, disiplin juga akan membuat anak belajar menghargai orang lain dan mengontrol dorongan dalam dirinya. Namun, orangtua hendaknya juga perlu membuat batasan-batasan yang dilandasi cinta agar anak merasa aman.
Alih-alih menghukum anak dengan pukulan, beri tekanan lebih pada sisi positif anak, misalnya dengan memberi hadiah atau pujian bila anak berlaku positif. Bila terpaksa memberi hukuman, sesuaikan dengan usia si kecil dan situasi yang berlaku.
Sumber : The Times
SH Mintardja Pemegang rekor Kisah “Terpanjang”
SH Mintardja adalah pengarang cerita silat Indonesia (Jawa) terbesar, yang mengarang banyak cerita silat, salah
satunya memegang rekor kisah ‘terpanjang’, yakni ‘Api Di Bukit Menoreh’. Kisah lainnya yang populer adalah ‘Naga Sasra dan Sabuk Inten’, yang ditulis sebelum ‘Api’.
Tapi produktivitasnya juga tidak diragukan. Selama sekitar tiga dekade ia menulis Api di Bukit Menoreh tanpa henti. Harian lokal Kedaulatan Rakyat langsung memuatnya. Jika S.H. Mintardja sakit, misalnya, koran ini akan memuat pengumuman penghentian lanjutan cerita.
Hebatnya, di saat dikejar tenggat Api di Bukit Menoreh sejak 1967 sampai menjelang meninggal, ia sempat menulis sejumlah judul lain yang juga cukup terkenal seperti Pelangi di Atas Singosari, Yang Terasing, sampai Matahari Esok Pagi. Kepopuleran karya S.H. Mintardja sangat terbantu dengan sandiwara tradisional kethoprak yang digemari warga Jawa Tengah, Yogyakarta, sampai Jawa Timur.
Mereka yang bukan tipe pembaca buku memahami cerita rekaan S.H. Mintardja dari kethoprak, baik yang pentas di alun-alun atau televisi lokal. Kethoprak ini tak hanya dipanggung- panggung, tapi juga lewat televisi. Nagasasra dan Sabukinten pernah menjadi seri kethoprak di televisi Yogyakarta meski tidak sampai tamat.
Tidak hanya itu, bagian awal Api di Bukit Menoreh pernah dijadikan film pada 1970-an. Selain produktivitas, kelebihan S.H. Mintardja adalah kedekatan emosional. Meski menulis dengan bahasa Indonesia, ia membaluri dengan nuansa Jawa. Ia menyebut waktu, misalnya, dengan istilah yang hampir dilupakan seperti sirep uwong atau sirep bocah. Soal plot, S.H. Mintardja sangat longgar. Dalam Nagasasra dan Sabukinten misalnya. Ia bercerita bagaimana dedikasi tentara Demak, bernama Mahesa Jenar, mencari dua keris yang dicuri dari istana Demak. Butuh cerita panjang di kawasan Mentaok sebelum akhirnya pembaca diajak ke tema awal: pencarian keris. Begitu pula dengan Mintardja, koran lain di wilayah itu tidak mau kalah. Suara Merdeka melirik nama penulis lain. (sumber: Koran Tempo Edisi 30 Oktober 2005)

Api Di Bukit Menoreh, Klik Judul Berikut:
1. Api Di Bukit Menoreh Jilid 001 – 025
2. Api Di Bukit Menoreh Jilid 026 – 050
3. Api Di Bukit Menoreh Jilid 050 – 075
4. Api Di Bukit Menoreh Jilid 075 – 100
5. Api Di Bukit Menoreh Jilid 101 – 125
6. Api di Bukit Menoreh Jilid 126 – 150
7. Api Di Bukit Menoreh Jilid 151 – 175
Sabar, tunggu lanjutannya…


