Sahabat
“Sahabat adalah seorang
Yang memberi kekuatan di mana ada kelemahan
Yang memberi kedamaian di mana ada kebencian
Yang membawa kepastian, di mana ada kesulitan
Yang rela mendengarkan penuh perhatian
Yang memberi terang kepada hidup yang gelap.
Yang berbicara banyak tetapi bermakna dalam hidup
Yang memberi cinta sekalipun belum mendapat cinta
Yang membuat orang lain bahagia dan gembira”
Penulis : Lucy
______________________
Jika Tuhan Mengingatkan
Ada seorang mandor bangunan bekerja di gedung bertingkat. Suatu ketika ia ingin sampai pesan penting kepada tukang di lantai bawahnya. Mandor itu berteriak-teriak memanggil tukang bangunan agar mau mendongak ke atas sehingga ia dapat menjatuhkan catatan pesan. Karena suara mesin-mesin pekerjaan bising, tukang di bawahnya tidak dapat mendengar meski sudah berusaha berteriak lebih keras lagi tetaplah sia-sia saja.
Akhirnya ada ide melemparkan koin uang logam ke depan seorang tukang. Begitu melihat koin uang di depannya, berhenti bekerja sejenak kemudian mengambil uang logam itu, lalu melanjutkan pekerjaannya. Beberapa dicoba lemparkan uang logam, tetapi tetap tidak berhasil membuat tukang di bawahnya mau mendongak ke atas. Tiba-tiba ada ide lain, ia mengambil batu kecil dan melemparkannya tepat mengenai seorang pekerja yang ada di bawahnya. Karena sakit kejatuhan batu, pekerja itu mendongak ke atas mencari siapa yang melempar batu itu. Kini sang mandor dapat menyampaikan pesan penting dengan menjatuhkan catatan pesan dan diterima oleh pekerja di lantai bawahnya.
Untuk menarik perhatian manusia, Tuhan seringkali menggunakan cara-cara yang menyenangkan, namun kadangkala juga dengan pengalaman-pengalaman yang menyakitkan. Tuhan seringkali menjatuhkan “koin uang” atau memberikan kemudahan dan rejeki yang cukup, agar manusia mau mendongak ke atas, memujiNya dan memuliakanNya. Sayangnya, seringkali hal itu tidak cukup membuat manusia bersyukur atas rahmat-Nya dan belum cukup membuat mau memberikan perhatian dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu, kadang-kadang menggunakan pengalaman menyakitkan, seperti menerima kegagalan, rasa sakit, kesulitan, musibah, dan berbagai pengalaman lainnya untuk menarik perhatian manusia. Dengan demikian, pengalaman-pengalaman menyakitkan yang kadang kala diterima manusia, hendaknya diterima sebagai peringatan dari Tuhan untuk menarik perhatian . Hendaknya hal itu membuat semakin mempererat hubungan dengan Tuhan, menyadarkan diri sebagai makhluk-Nya.
Sudah begitu banyaknya berkat dan rahmat-Nya kita. Seperti memiliki pekerjaan yang baik, sehat, memiliki mata untuk melihat dunia, punya dua kaki menopang tubuh kita, panca indra lengkap sempurna, rejeki yang cukup, keluarga yang bahagia dan lain sebagainya. Semua itu sesungguhnya adalah berkat dan rahmat Tuhan yang tak ternilai harganya. Sudahkah hal itu menjadikan kita selalu menengadahkan wajah kepada-Nya, mengingat-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya ? Ataukah hal itu belum menarik perhatian kita, sehingga menunggu Tuhan menjatuhkan “batu” kepada kita ?.
SEMOGA BERMANFAT !
Penulis : Eko Jalu
_______________________________
Penulis : Eko Jalu S. adalah Penulis Buku “The Art of Life Revolution” dan Buku “Heart Revolution: Revolusi Hati Nurani Menuju Kehidupan Penuh Potensi” keduanya diterbitkan Elex Media Komputindo.
Pribadi Punya Prinsip-2
Lebih percaya diri dan aman. Tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup yang selaras dengan “utara yang benar” akan menghasilkan kualitas kehidupan, sabar dan damai dalam proses itu. Keamanan mereka tidak berasal dari pekerjaan, asosiasi, pengakuan, harta milik, status, atau banyak faktor luar lainnya. Keamanan mereka berasal dari dalam – dari pemusatan hidup mereka pada prinsip-prinsip, dari kesetiaan mereka menjalani hidup selaras dengan hati nurani mereka.
Mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik di mana ucapan-ucapan mereka selaras dengan tindakan-tindakan mereka. Tidak ada kepura-puraan yang disengaja, tidak licik menyembunyikan pikiran ganda (double-mindedness), tidak munafik.
Memfokuskan diri pada Lingkaran Pengaruh. Mereka tidak memboroskan waktu dan tenaga dalam Lingkaran Kepedulian. Mereka memusatkan diri pada sesuatu yang dapat mereka lakukan dan bekerja untuk memperbaiki hampir setiap situasi di mana mereka berada.
Membina kehidupan bathin yang kaya. Mereka menarik kekuatan dari pembaruan rohani mereka yang mereka lakukan secara teratur. Mereka memperkaya diri dengan literatur kebijaksanaan. Mereka merenung, melakukan meditasi, atau dengan cara-cara lain membina konteks, makna dan tujuan-tujuan dalam hidup mereka.
Memancarkan energi positif. Lebih ceria, menyenangkan, optimistik, positif dan bersemangat. Melihat berbagai kemungkinan. Mampu menetralisir atau menyingkirkan dorongan-dorongan kekuatan negatif yang besar dan memperbesar kekuatan-kekuatan yang lemah yang berada di sekitar mereka.
Lebih menikmati hidup. Tidak menghukum diri sendiri untuk setiap kesalahan tolol dan kesalahan sosial yang besar. Memaafkan diri sendiri dan orang lain. Tidak terus-terusan asyik mengenang masa lampau atau berandai-andai mengenai masa depan tapi hidup ceria pada saat ini, dan dengan hati-hati merencanakan masa depan, serta dengan luwes menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terus berubah. Mereka mengembangkan kemampuan untuk menangkap sesuatu yang lucu dalam segala sesuatu yang terjadi (sense of humor); bisa menertawakan diri sendiri dan untuk itu tidak menyalahkan orang lain.
Success Bro,
Do the best, God takes the rest !!!
__________________________
“Pribadi Punya Prinsip” petikan dari buku karya Stephen R. Covey yang berjudul First Thing First. Stephen R. Covey adalah seseorang dengan kepribadian luar biasa, penulis buku best seller seperti The Seven Habits of Highly, First Thing First dan buku – buku lainnya.
Pribadi Punya Prinsip-1
Stephen R Covey adalah seorang penulis yang luar biasa. Buku- bukunya terkenal yang termasuk Best Seller dan memiliki pengaruh diberbagai kalangan formatio dan menjadi bahan – bahan pengembangan pribadi secara utuh dan dewasa.
Berikut Ciri – Ciri pribadi yang memiliki prinsip menurut Stephen R Covey :
Luwes dan spontan. Baginya jadwal penting tetapi tidak boleh terbelenggu rencana dan jadwal, hidup sebagai petualangan.
Memiliki hubungan-hubungan yang lebih kaya dan memberi banyak buah dengan orang lain. Janji dan ucapannya sejalan dengan perbuatannya, tidak bereaksi berlebihan terhadap perilaku negatif, kritik, atau kelemahan manusiawi. Mudah memaafkan, tidak suka memberi labeling, stereotype, dan berprasangka. Gembira atas keberhasilan orang lain dan memberikan dukungan, percaya akan potensi tersembunyi setiap orang. Menciptakan iklim untuk pertumbuhan dan memberi kesempatan bagi orang lain.
Lebih bersifat sinergis. Mampu bekerja sama guna mencapai visi bersama. Menghargai perbedaan dan percaya pada solusi-solusi alternative. Belajar membangun kekuatan dan berusaha menutup kelemahan dengan kekuatan-kekuatan orang lain. Mampu untuk memisahkan antara orang dan masalah dalam berkomunikasi. Mereka memfokuskan diri pada keprihatinan orang lain.
Terus-menerus belajar. Rendah hati, mudah menerima didikan, mencari literatur, dan mendengarkan orang lain, serta belajar dari pengalamannya.
Lebih terfokus pada upaya untuk memberi sumbangan. Menyalurkan waktu dan tenaga untuk memberi sumbangan daripada konsumsi, berupaya memberi daripada menerima, berorientasi pelayanan, dan meningkatkan kualitas kehidupan.
Menciptakan hasil-hasil yang luar biasa. Mengembangkan produksitivitas yang berjangka panjang, mendapatkan keahlian-keahlian baru, semakin mampu bekerja sebagai tim dan menerapkan prinsip-prinsip yang menentukan kualitas kehidupan.
Mengembangkan sistem kekebalan psikologis yang sehat. Mampu mengatasi masalah, dan tidak mudah lemah karena keuangan, kekecewaan. Memiliki sumber daya untuk tegak bangkit kembali.
Menciptakan batas-batas mereka sendiri. Mampu mengelola waktu, mengelola keuangan (termasuk investasi ke depan), menerapkan prinsip-prinsip dan kebijaksanaan guna memaksimalkan efektivitas dan produktivitas. Fokus dalam kerja pada saat energi dan kreatifitas mereka berada pada puncaknya serta mampu menyisihkan waktu untuk rekreasi.
Hidup dengan lebih seimbang. Tidak kecanduan kerja (workaholics), tidak fanatik sempit dalam keyakinan agama dan keyakinan politik. Mereka tidak melakukan diit berlebihan, atau pelahap rakus, kecanduan kenikmatan, atau martir yang melakukan matiraga secara berlebihan. Mereka aktif secara fisik, mental, sosial, dan spiritual. *** (bersambung …)
Success Bro,
Do the best, God takes the rest !!!
Letakkan Beban Sesaat Saja
Saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: “Menurut anda, kira-kira seberapa beratnya segelas air ini?” Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. “Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya.” kata Covey. “Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya.
Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.” “Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya.” lanjut Covey. “Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi”. Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.
Jadi, sebelum pulang ke rumah pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang, beban itu dapat diambil lagi besok pagi. Apapun beban yang ada dipundak hari ini, coba tinggalkan sejenak, jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.
Success Bro,
Do the best, God takes the rest !!!
Diam
Diam aku dalam diri, Diam aku dalam keheningan
Diam aku hingga menjadi tenang, Tenang dan semakin tenang
Tanpa suara, tanpa suara, Namun menyerap suara yang datang
Dari kediaman batin terdalam
Tak bicara sepatah katapun,
Namun ada percakapan dalam hati
Antara Engkau dan aku begitu mesra,Begitu intim
Tanpa ada gangguan
Diam aku dalam diri, Diam aku dalam keheningang hati
Kututup telinga dari kebisingan dan kubuka telinga hatiku
Kututup mataku dan kubuka mata batinku
Tuk, memasuki diri, kutemukan keindahan
Dalam diam, Dalam hening, Dalam ketenangan
Kulihat kejernihan hingga tampak dasar-dasarnya
Kutemukan itu bagai air yang tenang dalam sebuah kolam
akan terlihat keindahan yang menakjubkan”.
(Rereat 5 Juni 2008, Salam dr Lucyan)
Tulisan Pada Batu
Di suatu pantai tampak dua anak sedang bermain, berlari-larian, dan bercanda riang gembira. Tiba-tiba terjadi pertengkaran, salah satu anak yang bertubuh jangkung memukul temannya hingga memar. Anak yang dipukul diam terpaku, kemudian dengan mata berkaca-kaca menahan sakit dan tanpa berbicara sepatah katapun dia menulis menggunakan ibu jari kakinya di atas pasir: “Hari ini temanku telah memukul aku…….. !!!”
Temannya itu merasa tidak nyaman dan tersipu malu. Setelah berdiam-diaman beberapa saat, dasar anak- anak, mereka pun segera kembali bermain bersama dan berkejaran – kejaran. Saat berkejaran, anak yang dipukul tadi terperosok ke dalam lobang perangkap yang dipasang pemburu binatang “aduh, tolong…. Tolong….. !” teriaknya. Temannya segera melongok ke lobang dan berseru “apakah engkau terluka? Jangan takut, tunggu sebentar aku akan segera mencari cara untuk menolongmu”. Bergegas anak itu mencari alat, ia mendapatkan tali. Saat kembali, dia berteriak menenangkan temannya sambil mengikatkan tali ke batang pohon. “Teman, aku sudah datang! Ini tali yang ujungnya sudah kuikat pada sebatang pohon, sisanya ikatkan dipinggangmu, pegang erat-erat dan naik merambat lewat tali ini sambil aku akan menarikmu”. Dengan susah payah, akhirnya berhasil menolong. “Terimakasih sobat!”, kemudian ia bergegas mencari sebuah batu karang dan berusaha menulis di atas batu “Hari ini, temanku telah menyelamatkan aku”.
Temannya diam-diam mengikuti bertanya keheranan, “Mengapa setelah aku memukulmu, kamu menulis di atas pasir. Dan, setelah aku menyelamatkanmu, kamu menulis di atas batu?” Anak yang di pukul itu menjawab, “Setelah kamu memukul, aku menulis di atas pasir karena kemarahan dan kebencianku terhadap perbuatan buruk yang kamu perbuat, ingin segera aku hapus, seperti tulisan di atas pasir yang akan segera terhapus bersama tiupan angin dan sapuan ombak. Tapi ketika kamu menyelamatkan aku, aku berusaha menulis di batu, karena perbuatan baikmu itu pantas dikenang terpatri selamanya di dalam hatiku, sekali lagi, terima kasih sobat”.
Inspirasi from : andreiwongso
Do the best, God takes the rest !!!


