Ki Menggung

Change is the only evidience of life

CERITAKAN PADA DUNIA

Aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai dibahunya. Penilaian singkatku : Dia seorang yang aneh… sangat aneh! Tommy menjadi tantanganku, ia terus-menerus mengajukan pertanyaan dan juga melecehkan tentang Tuhan mencintai tanpa pamrih. Ketika ujian akhir kuliah, dia bertanya agak sinis, “Menurut Bapak, apakah saya akan pernah menemukan Tuhan ?” “Tidak,” jawabku dengan sungguh-sungguh. “Oh,” sahutnya.  Kubiarkan dia jalan sampai lima langkah dari pintu, lalu kupanggil. “Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya, tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu !” Tommy mengangkat bahu, lalu pergi.

Aku merasa agak kecewa karena tidak bisa menangkap maksud kata-kataku. Kemudian kudengar Tommy lulus, dan saya bersyukur. Namun, ada berita menyedihkan : Tommy mengidap kanker ganas. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya panjangnya sudah rontok karena pengobatan kemoterapi. Namun, matanya  dan suara  terdengar tegas. “Tommy, Saya sering memikirkanmu dan katanya sakit keras?” tanyaku langsung. “Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker, waktu saya hanya tinggal beberapa minggu lagi.”  “Kamu mau membicarakan itu, boleh saja, apa yang ingin diketahui ?” “Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang ?” Jawabnya, “Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira bahwa minum minuman keras, main perempuan, dan memburu harta adalah hal ‘utama’ dalam hidup ini.”

“Sesuatu bapak pernah katakan,  sungguh mengejutkan saya. Lalu, bapak mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh. Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya, dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga. Tapi tak terjadi apa pun. Lalu, saya terbangun di suatu hari dan tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu. Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting,” lanjut Tommy.  “Saya teringat tentang bapa yang lain : Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka. Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit : Ayah saya !”

Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya. “Pa, aku ingin bicara.” “Bicara saja.” “Pa, ini penting sekali.” Korannya turun perlahan 8 cm. “Ada apa ?” “Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu.” Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu. “Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya.” “Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah,” sambung Tommy. “Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya.”  “Lalu suatu hari saya berbalik, dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya memohon padaNya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendakNya dan pada waktuNya. Benar, Dia menemukan saya, bahkan setelah saya berhenti mencariNya.” “Tommy,” aku tersedak, “Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih.”

Maukah kamu datang ke kuliah mengatakan apa yang baru kamu ceritakan?” Meski dijadwalkan, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia telah berpulang. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan. Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali.  “Saya tak akan mampu hadir di kuliah Bapak,” katanya “Maukah bapak menceritakannya pada dunia untuk saya? “Ya, Tommy. Saya akan melakukannya.”

Dikisahkan kembali oleh: John Pwll

May 18, 2008 Posted by Ki Menggung | Spirit Life | , | 3 Comments

Dimana Ada Kesempatan

Oleh : Ki Menggung

Sebagian dari kita terperangkap pandangan umum: jika sendang untung maka kesempatan muncul dengan sendirinya. Sementara iru, saat kesembatan tidak juga datang yang dikerjakan menunggu dan terus menunggu. Bahkan lebih fatal menyalahkan di luar dirinya dengan mengatakan : ini sudah nasibku, inilah garis hidupku, inilah takdirku hidup malang!! Yang terjadi ya benar – benar malang hidupnya dan tidak ada perubahan dalam hidupnya. Jelas pola pikir atau mind set tersebut menyesatkan, biasanya yang orang berpola pikir itu malah tidak pernah dihampiri kesempatan. Kalaupun kesempatan menghampiri tetapi ia tidak mengenali dan akhirnya terlewatkan begitu saja.

Pola pikir yang positif ditanamkan : setiap manusia memiliki hak memilih kesempatan yang diinginkan. Caranya : berani memutuskan, menciptakan, dan memperjuangkan kesempatan. Berani mengambil langkah – langkah dengan keaktifan supaya peluang tercipta dan bersikap proaktif. Berani membuat usaha- usaha supaya kesempatan dapat dimanfaatkan dan memberi hasil seperti yang diharapkan.

Ada kalanya kesempatan awalnya tampak sepele tetapi jangan remehkan bekecil apapun. Pencapaian besar bisa diawali oleh kesempatan kecil yang umumnya dilewatkan oleh banyak orang. Hanya orang yang jeli dan yang mampu mengenali kesempatan saja yang akan memperoleh manfaat besar. Bro

Success Bro,

Do the best, God takes the rest !!!

May 18, 2008 Posted by Ki Menggung | Spirit Life | , | No Comments Yet

Dia Mengambil Rupa – Pulitzer

Foto ini menerima penghargaan Pulitzer pada tahun 1994. Foto diambil sewaktu kelaparan panjang di Sudan. Anak yang luka dan lapar sekali merayap menuju kamp PBB dimana pada jarak belum sampai satu kilometer terdapat makanan. Burung pemakan bangkai menunggu gilirannya. Foto ini mengejutkan seluruh dunia.

Tidak ada seorangpun yang mengerti apa yang terjadi dengan anak ini kemudian. Juga juru foto, Kevin Carter tidak. Dia tinggalkan tempat itu lekas setelah selesai membuat foto itu. Setelah tiga bulan dia mengalami stress berat dan melakukan bunuh diri.

pulistzer

Dia Mengambil rupa sebagai manusia”
(Siapakah mengenal-Nya sekarang?)

May 18, 2008 Posted by Ki Menggung | inspirasi | , , , , , | 2 Comments